Tikus komensal, atau tikus yang hidup berdampingan dengan manusia, merupakan salah satu hama paling merusak dan berbahaya di lingkungan permukiman di seluruh dunia. Kemampuan mereka untuk berkembang biak dengan cepat, beradaptasi dengan beragam sumber daya, dan menyebarkan penyakit menjadikan mereka ancaman konstan bagi kesehatan publik dan integritas struktural. Artikel ini membahas secara mendalam aspek biologi dan ekologi dari spesies tikus komensal yang paling umum, yaitu tikus atap (Rattus rattus), tikus got (Rattus norvegicus), dan mencit rumah (Mus musculus). Pemahaman terhadap siklus hidup, perilaku, dan adaptasi ekologis mereka adalah fondasi esensial untuk merancang strategi pengendalian yang efektif dan berkelanjutan.
1. Pendahuluan: Hama yang Berevolusi Bersama Manusia
Istilah “komensal” berasal dari bahasa Latin com mensa, yang berarti “berbagi meja”. Istilah ini secara akurat menggambarkan hubungan antara manusia dan beberapa spesies tikus yang telah berevolusi untuk mengeksploitasi sumber daya yang melimpah di lingkungan buatan manusia. Sejak awal peradaban, tikus telah mengikuti migrasi manusia, memanfaatkan tempat tinggal, makanan, dan kehangatan yang disediakan.
Di lingkungan perkotaan modern seperti Jakarta, tikus tidak hanya menjadi gangguan, tetapi juga vektor signifikan untuk penyakit zoonotik seperti Leptospirosis. Studi di Jakarta mengidentifikasi Rattus tanezumi, kerabat dekat Rattus rattus, sebagai salah satu spesies dominan di area permukiman. Keberhasilan mereka sebagai hama perkotaan berakar kuat pada karakteristik biologi dan fleksibilitas ekologi mereka yang luar biasa.
2. Spesies Utama Tikus Komensal
Tiga spesies berikut ini bertanggung jawab atas sebagian besar masalah hama tikus di permukiman secara global.
- Tikus Atap (Rattus rattus dan kerabatnya, R. tanezumi)
- Deskripsi Fisik: Bertubuh ramping dengan ekor yang lebih panjang dari panjang kepala dan badannya. Memiliki moncong runcing dan telinga besar.
- Perilaku Khas: Sesuai namanya, tikus ini adalah pemanjat yang ulung. Mereka lebih suka bersarang di lokasi-lokasi yang tinggi seperti loteng, atap, dan di antara dinding.
- Tikus Got (Rattus norvegicus)
- Deskripsi Fisik: Bertubuh lebih besar dan kekar dibandingkan tikus atap. Ekornya lebih pendek dari panjang kepala dan badan, dengan moncong tumpul dan telinga kecil.
- Perilaku Khas: Merupakan perenang andal dan penggali liang yang tangguh. Habitat utamanya adalah di area yang lebih rendah dan lembab seperti saluran pembuangan (got), ruang bawah tanah, dan dengan membuat liang di tanah.
- Mencit Rumah (Mus musculus)
- Deskripsi Fisik: Berukuran paling kecil di antara ketiganya. Memiliki mata dan telinga yang relatif besar untuk ukuran kepalanya.
- Perilaku Khas: Sangat ingin tahu dan cenderung menjelajahi wilayahnya. Karena ukurannya yang kecil, mereka dapat menyelinap melalui celah yang sangat sempit dan sering bersarang di dalam perabotan, kotak penyimpanan, dan dinding.
3. Aspek Biologi: Mesin Reproduksi dan Adaptasi
Kemampuan tikus untuk bertahan dan berkembang biak di lingkungan yang menantang didukung oleh biologi mereka yang efisien.
3.1. Potensi Reproduksi yang Eksplosif
Tikus dikenal karena kemampuan reproduksinya yang sangat tinggi, memungkinkan populasi mereka meledak dalam waktu singkat jika kondisinya mendukung.
- Kematangan Seksual: Mencapai kematangan seksual sangat cepat, biasanya dalam 2-3 bulan setelah lahir.
- Masa Kehamilan: Masa kehamilan (gestasi) sangat singkat, rata-rata sekitar 21-24 hari.
- Ukuran Anak: Seekor betina dapat melahirkan 5-10 anak dalam satu kali persalinan.
- Siklus Berkelanjutan: Betina dapat kawin lagi hanya dalam beberapa jam setelah melahirkan, memungkinkan siklus reproduksi yang hampir tanpa henti sepanjang tahun, terutama di iklim tropis yang hangat.
Kombinasi faktor-faktor ini berarti satu pasang tikus secara teoritis dapat menghasilkan ratusan hingga ribuan keturunan dalam satu tahun.
3.2. Kemampuan Fisik dan Sensorik
Adaptasi fisik dan sensorik tikus membuat mereka sangat cocok untuk kehidupan di lingkungan manusia.
- Menggerogoti (Gnawing): Gigi seri tikus terus tumbuh sepanjang hidup mereka. Hal ini memaksa mereka untuk terus-menerus menggerogoti benda-benda keras untuk mengasah dan mengontrol panjang gigi mereka. Mereka dapat merusak kayu, plastik, kabel listrik (menyebabkan risiko korsleting dan kebakaran), bahkan pipa timah dan beton lunak.
- Indra Peraba: Tikus memiliki kumis (vibrissae) dan bulu-bulu penjaga di tubuhnya yang sangat sensitif. Mereka menggunakannya untuk merasakan getaran dan tekstur, memungkinkan mereka untuk bernavigasi di kegelapan dengan cara menyusuri dinding dan objek.
- Indra Penciuman dan Pengecap: Indra penciuman mereka sangat tajam, digunakan untuk mendeteksi sumber makanan, predator, dan jalur yang ditinggalkan tikus lain melalui jejak urin dan feromon.
- Ketangkasan: Mereka adalah pelompat, pemanjat, dan perenang yang andal (terutama R. norvegicus). Tubuh mereka yang fleksibel memungkinkan mereka untuk memipihkan diri dan melewati celah yang tampak mustahil untuk dilewati.
4. Ekologi dan Perilaku di Permukiman
Perilaku tikus diatur oleh insting untuk mencari makan, tempat berlindung, dan berkembang biak.
4.1. Pemilihan Habitat dan Perilaku Bersarang
Tikus mencari lokasi sarang yang aman dari predator, dekat dengan sumber makanan dan air, dan terlindung dari cuaca. Di rumah manusia, lokasi-lokasi ini meliputi:
- Loteng dan rongga atap.
- Rongga di dalam dinding atau di bawah lantai.
- Tumpukan barang bekas, kardus, atau kayu.
- Di belakang atau di dalam peralatan rumah tangga besar seperti kulkas dan kompor.
- Liang di taman atau di sepanjang pondasi bangunan (khususnya R. norvegicus).
Mereka akan menggunakan bahan apa pun yang tersedia—kertas, kain, plastik, bahan isolasi—untuk membuat sarang yang hangat dan lembut.
4.2. Perilaku Mencari Makan (Foraging) dan Neofobia
- Diet: Tikus bersifat omnivora dan oportunistik. Mereka akan memakan hampir semua hal yang dimakan manusia, mulai dari sereal, daging, buah, hingga sampah organik.
- Pola Makan: Mereka biasanya paling aktif mencari makan setelah senja dan sebelum fajar. Mereka cenderung melakukan perjalanan singkat dari sarang ke sumber makanan, seringkali menggunakan rute yang sama berulang kali, yang ditandai dengan jejak minyak dan kotoran.
- Neofobia (Ketakutan pada Benda Baru): Rattus norvegicus terkenal sangat waspada dan takut pada objek baru di lingkungan mereka. Mereka mungkin akan menghindari perangkap atau stasiun umpan baru selama beberapa hari hingga mereka terbiasa. Sebaliknya, Mus musculus lebih penasaran dan cenderung menyelidiki benda-benda baru.
4.3. Struktur Sosial dan Teritori
Tikus hidup dalam kelompok keluarga atau klan dengan hierarki dominasi. Seekor jantan dominan biasanya memimpin kelompok. Mereka menandai wilayah mereka dengan urin dan sekresi kelenjar. Tanda-tanda kimia ini mengkomunikasikan status, kepemilikan wilayah, dan kesiapan reproduksi kepada tikus lain. Pertarungan dapat terjadi jika ada tikus asing yang penyusup memasuki wilayah yang sudah diklaim.
5. Kesimpulan: Implikasi untuk Pengendalian
Memahami biologi dan ekologi tikus komensal adalah kunci untuk mengendalikan mereka secara efektif. Strategi yang hanya mengandalkan satu metode (misalnya, hanya memasang perangkap) seringkali gagal karena tidak mengatasi akar masalah. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang berhasil harus didasarkan pada pengetahuan ini:
- Sanitasi: Menghilangkan sumber makanan dan air adalah langkah paling mendasar. Ini menargetkan kebutuhan ekologis utama mereka.
- Eksklusi (Rodent-Proofing): Menutup semua celah dan lubang potensial untuk mencegah mereka masuk menargetkan kemampuan fisik mereka untuk menyelinap ke dalam bangunan.
- Pengurangan Populasi: Penggunaan perangkap dan umpan harus dilakukan secara strategis, dengan mempertimbangkan perilaku seperti neofobia dan rute perjalanan mereka yang biasa.
- Monitoring: Mengenali tanda-tanda keberadaan mereka (kotoran, jejak gerogotan, bau) memungkinkan deteksi dini sebelum populasi meledak, mengeksploitasi laju reproduksi mereka.
Dengan menyerang kebutuhan biologis dan mengeksploitasi pola perilaku mereka, populasi tikus di lingkungan permukiman dapat dikelola secara lebih efektif, mengurangi kerugian ekonomi dan risiko kesehatan bagi manusia.
